Untaian kalimat bisa menggambarkan jutaan rasa. Bisa mengekspresikan kebahagiaan. Bisa melegakan kegalauan. Bisa menghanyutkan keceriaan juga melukiskan kesendirian. Serpihan-serpihan My world akan terpapar jelas dalam rangkaian indah My Words..this is me and my whole life..
Saturday, December 24, 2011
Apa Itu Tantrum dan Penanganannya?
Setelah beberapa hari sempat break tidak ngeblog, akhirnya hari ini sempet juga ngisi lagi. sejak beberapa hari tema ini ingin saya kupas di blog ini, namun karena lagi banyak deadline naskah yang kudu saya beresin dulu jadi ketunda-tunda.
Beberapa waktu yang lalu, saya melihat sebuah tayangan televisi yang membahas tentang tumbuh kembang anak. Saat itu yang dibahas adalah tentang anak tantrum. Hanya sekilas saya melihatnya karena kala itu channel tv keburu diganti anak saya. Karena penasaran saya pun searching di internet tentang apa itu tantrum hanya sebagai masukan buat saya.
Namun sebuah status facebook page Parenting Indonesia menulis tentang pengalaman Emma Thompson, aktris pemeran Nanny McPhee, dalam status itu dipaparkan kisah Emma menghadapi anaknya yang kala itu berumur 4 tahun mengalami tantrum. Dari komen-komen yang ada, saya tahu kalau banyak bunda-bunda yang tidak mengerti dan memahami apa itu tantrum. Hal itu menggelitik saya untuk menulis artikel ini, dengan berbekal pengetahuan yang saya dapat dari artikel-artikel yang saya baca di internet.
Apa sih tantrum sebenarnya? Tantrum atau temper tantrum adalah emosi yang meledak-meledak yang tampil dalam bentuk perilaku agresif yang tak terkendali. Perilaku yang ditampilkan bisa berupa merengek, menangis, berguling-guling, merusak atau bahkan kegiatan menyakiti diri sendiri juga orang lain.
Tantrum seringkali muncul pada anak usia 15 bulan sampai 6 tahun. Dan biasanya tantrum terjadi pada anak yang aktif dan mempunyai energi berlimpah. Tantrum lebih mudah ternjadi pada anak yang memiliki temperamen "sulit".
Menurut yang tertuang dalam buku Tantrums Secret to Calming the Storm (La Forge: 1996), banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa Tantrum adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Sebagai bagian dari proses perkembangan, episode Tantrum pasti berakhir.
Menyikapi tantrum dengan baik bisa mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi, takut,jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut.
Penyebab tantrum anak :
1. Anak tidak mampu mengungkapkan keinginannya. Anak-anak seringkali mempunyai keterbatasan dalam berkomunikasi sehingga ketika keinginannya tidak dimengerti, anak-anak cenderung mengespresikannya dalam bentuk tantrum
2. Terhalangnya keinginan untuk mendapatkan sesuatu.
3. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.
4. Pola asuh yang salah. Anak yang terlalu dimanja dan biasa mendapatkan keinginannya akan mudah melampiaskan emosinya ketika keinginannya tidak terpenuhi.
5. Cari perhatian.
6. Anak sedang stres atau merasa tidak aman dan nyaman.
Cara mengatasi anak yang sedang mengalami tantrum :
1. Orang tua harus tetap tenang
2. Hidari usaha untuk menghentikan tantrum, beri anak anda waktu untuk menguasai dirinya.
3. Jangan memarahi, menasehati, membujuk ataupun berbicara panjang lebar ketika anak anda sedang mengalami tantrum karena akan memicu kondisi yang lebih parah.
4. Tunjukkan bahwa anda ada dan tidak menolak (abandon) dia. Anda bisa duduk di dekatnya(dengan tetap melakukan aktifitas anda) atau mengucapkan kata sayang padanya. Katakan padanya kalau anda ada kapanpun dia selesai/siap bicara.
5. Cegah anak anda melakukan tindakan yang bisa mencelakai dirinya, teman-temannya atau merusak lingkungannya. Jauhkan apa saja yang bisa membahayakan dan bisa dijadikan sebagai 'pemulus' tantrumnya.
6. Setelah tantrum sudah dilewati, jangan menasehati, menghukum, memuji ataupun memberi hadiah pada anak anda. Jangan meluluskan apa yang diinginkan. Anda harus tetap konsisten. Tunjukkan padanya kalau anda tidak bisa dimanipulasi. Jika anda ingin menasehatinya, jangan dilakukan di masa sedang dan sesudah tantrum tp lakukan itu ketika anda berdua sudah dalam kondisi tenang dan nyaman.
Sudah tugas kita sebagai orang tua untuk mengarahkan sang buah hati menjadi lebih baik. Demi masa depannya yang cemerlang.
Powered by ShowMeBlogger.com
Tuesday, December 6, 2011
Children Learn What They Live
If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.
If you live with serenity,
your child will live with peace of mind.
With what is your child living?
DARI LINGKUNGAN HIDUPNYA,
....... ANAK-ANAK BELAJAR
Jika anak dibesarkan dalam celaan, ia belajar untuk menghakimi
Jika anak dibesarkan dengan kekerasan, ia belajar menentang
Jika anak dibesarkan dalam kekuatiran, ia belajar untuk cemas
Jika anak sering dikasihani, ia belajar untuk meratapi diri
jika anak selalu dicemooh, ia akan menjadi pemalu
Jika anak dibesarkan dengan rasa dengki, ia belajar menjadi iri hati
jika anak selalu dipermalukan, ia menjadi mudah tertuduh
Jika anak dibesarkan dalam dukungan, ia belajar untuk percaya diri
Jika anak dibesarkan dalam pengertian, ia belajar arti kesabaran
Jika anak banyak menerima penghargaan, ia belajar untuk menghargai
Jika anak dibesarkan dalam penerimaan, ia belajar mengasihi
Jika anak tidak banyak dikekang, ia belajar untuk mencintai dirinya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar untuk menetapkan tujuan
Jika anak hidup dalam berbagi, ia belajar untuk bermurah hati
Jika anak hidup dalam kejujuran, ia akan terbiasa dengan kebenaran
Jika anak dibesarkan dalam keadilan, ia belajar berbuat adil
Jika anak dibesarkan dalam kasih dan pengertian, ia belajar untuk menghargai
Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar untuk mempercayai diri sendiri dan orang lain
Jika anak selalu diperlakukan dengan bersahabat, ia belajar memandang dunia sebagai tempat yang menyenangkan untuk ditinggali.
Jika anda memberinya ketentraman, Ia akan tumbuh menjadi jiwa yang tenang
Bagaimana Dengan Anak Anda?
Friday, December 2, 2011
Dunstan Baby Language, Cara Mudah Memahami Bayi Anda
Oleh : Ida Silvia
Saya mengetahui metode ini ketika saya hamil putri kedua saya. Kala itu ϑî acara Oprah Winfrey, dunstan hadir sebagai nara sumber menerangkan dan mempraktekkan metode yang dibuatnya.
Beberapa hari kemudian, saya membacanya ϑî sebuah artikel ϑî surat kabar. Dari sana saya mulai menggunting kolom yang khusus menguraikan 5 kata dari "bahasa bayi" tersebut dan menjadikannya sebagai referensi untuk lebih memahami si kecil.
Priscilla Dunstan, wanita dari Australia ini memiliki memori eidetic – memori fotografik terhadap suara. Ia dapat memainkan komposisi Mozart dengan biolanya hanya dengan sekali mendengarkannya saat dia berusia 5 tahun. Karena kemampuannya itu, ketika dia memiliki bayi, dia memperhatikan pola tangis sang bayi dan mengerti apa yang diinginkannya.
Bayi berusia 0-3 bulan di seluruh dunia, ternyata memiliki bahasa bayi yang sama. Bahasa mereka merupakan refleks alami yang muncul dengan sendirinya. Refleks suara sang bayi akan berubah menjadi tangisan histeris ketika keinginannya tidak direspon. Namun ketika usia bayi diatas 3 bulan, bayi akan merubah refleks suaranya menjadi ocehan.
Menurut dunstan, semua bayi dibawah 3bulan memiliki bahasa universal yang tidak terpengaruh oleh warna kulit dan budaya orang tuanya. Dia menyebutnya sebagai dunstan baby language, terdiri dari 5 kata yang menjadi dasar "bahasa bayi". Dan kelima kata tersebut adalah :
1. Neh, berarti lapar. Cirinya mulut dan lidah bergerak seperti mengecap.
Penanganannya : segera berikan ASI atau susu.
2. Owh, berarti mengantuk. Ditandai dengan mulut yang berbentuk oval saat bayi menangis.
Penanganannya : bantu dia tidur.
3. Heh, berarti bayi merasa tidak nyaman.
Penanganannya : cari tau penyebabnya. Bisa disebabkan karena dia kepanasan atau kedinginan, atau mungkin popoknya minta diganti.
4. Eairh, berarti kembung.
Penanganannya : pijat punggung bagian belakang setinggi perut. Atau gunakan minyak telon atau bisa juga dicampur dengan daun jarak yang sudah lama menjadi ramuan warisan nenek moyang.
5. Eh, berarti dia butuh disendawakan karena terdapat udara ϑî rongga dada. Hal ini sering terjadi setelah bayi minum susu.
Penanganannya : bantu sendawakan bayi karena bayi tidak bisa sendawa sendiri. Letakkan(tempelkan) dia ϑî dada anda(bayi menghadap anda) dan tepuk-tepuk bagian punggungnya hingga terdengar bunyi sendawa.
Untuk lebih memahami dan mengerti pengucapan kelima kata tersebut, alangkah baiknya kalau anda membeli 1 set DVD "The Dunstan Baby Languange". Anda bisa membelinya ϑî toko online yang banyak bertebaran ϑî dunia maya. Artikel ini hanya sedikit membantu anda memahami "bahasa bayi", namun dengan sering melihat dan melatih pendengaran anda melalui DVD dunstan akan memudahkan anda membedakan pengucapan tiap kata tersebut, sehingga anda dapat merespon secara cepat dan efektif keinginan bayi anda.
Wednesday, November 30, 2011
Belajar Membaca Tanpa Mengeja
Oleh : Ida Silvia
Mengeja adalah salah satu cara anak untuk memulai belajar membaca. Kendati jaman saya kecil, mengeja selalu jadi satu-satunya cara yang diajarkan ke anak ketika mulai membaca, namun hal itu tidak saya terapkan pada anak saya.
Belajar membaca dengan mengeja terbukti akan membuat anak lebih lambat membaca. Karena jika kita menghilangkan satu proses dari semua tahapan proses belajar membaca(menghilangkan tahapan mengeja), tentu saja anak akan lebih cepat bisa membaca. Anak yang diajari mengeja akan cukup nyaman dengan kebiasaan mengejanya sehingga butuh waktu lama untuk menghilangkan kebiasaan(kenyamanan)nya itu. Hal itu akan membuat anak yang seharusnya sampai ϑî tahap bisa membaca kata utuh(tanpa mengeja) menjadi mundur dari masanya.
Untuk mengajarinya membaca tanpa mengeja, anda tentu membutuhkan buku cetak yang khusus ϑî pakai untuk belajar membaca. Anda bisa banyak temukan ϑî toko buku sekelas gramedia bahkan sekelas toko kecil ϑî jalan raya dekat rumah anda. Anda bisa memakai buku dengan harga ϑîatas 50rb bahkan dengan harga dibawah 10rb. Yang penting dalam pemilihan buku, anda melihat tahapan pembelajaran ϑî buku itu, sehingga memudahkan proses belajar anak.
Sebagai panduan tahapan belajar membaca, saya uraikan ϑî bawah ini :
1. Membaca suku kata dengan "sedikit hafalan"
Kita akan mulai mengajarkan anak kita membaca suku kata dahulu. Ketika "B" berdampingan dengan "A", ajari untuk membaca "ba". Cukup katakan "B dan A, bacanya ba. B dan I, bacanya bi", dst. Anak harus menirukan tiap suku kata yang terbaca.
Biarkan anak anda terbiasa atau bahkan hafal urutan BA BI BU BE BO, CA CI CU CE CO, dst. Setelah kita mengajarkan beberapa, anak akan cenderung hafalan. Biarkan saja itu dulu. Mungkin ketika kita menyuruhnya membaca baris H, dia akan dengan sangat mudah membaca HAHIHUHEHO. Di tahapan ini, anak belum dapat dikatakan bisa karena yang mereka ucapkan adalah hafalan urutan nada pengucapan. Setidaknya mereka benar-benar bisa membaca suku pertama(semua huruf konsonan B-Z berdampingan dengan A)nya.
Dan yang harus tetap dipastikan, sang anak kudu tetap menunjuk dengan benar tiap suku kata yang dibacanya. Misalnya saat membaca WA dia menunjuk ϑî WA, saat membaca WI tangannya kudu ϑî WI, dst.
2. Mulai beri variasi dalam membaca suku kata
Setelah cukup lancar dengan poin 1, anak kita ajari membaca dengan cara menurun, misalnya BACADAFA, BICIDIFI, BUCUDUFU hingga WOXOYOZO.
Tunjuk tiap suku kata secara menurun agar anak anda membacanya. Jika dia berhenti karena kesulitan, bimbing dia misalnya " ayo apa M dan U?", anak pasti akan berfikir dahulu, bantu membacakannya jika anak anda masih kesulitan.
Setelah menurun, kita bisa mengajarinya melompat-lompat. Anda bisa menunjuk suku kata apa saja untuk dibacanya. Awalnya cukup lambat, namun ϑî tahapan ini pun anak mulai bisa membaca kata yang terdiri dari dua suku kata yang dipisah, misalnya KU PU, SA TE .
3. Membaca kata dengan dua suku terpisah
Kalau tahapan 2 sudah terlewati, anak akan mudah membaca kata dengan 2 suku kata terpisah. Di tahapan ini jangan dulu diajarkan kata yang berakhiran huruf mati hingga dia cukup lancar ϑî tahapan ini.
4. Ajari anak membaca huruf mati
Untuk membaca kata berakhiran huruf mati(termasuk kata berakhiran "ng"), lebih mudah dibanding ketika kita mengenalkan menulis(mendekte) kata dengan huruf mati. Yang diperlukan hanya banyak latihan, sambil ajarkan anak untuk mengerti dan terbiasa dengan pengucapan semua huruf mati. Beberapa buku sudah cukup memfasilitasi, misalnya buku "praktis membaca" akan mengajarkan dalam 1 halaman semua kata yang harus dibaca berakhiran T semua, dst. Harus sering latihan untuk memperlancar kemampuan membacanya.
5. Mulai belajar membaca kata utuh tanpa dipisah
Setelah keempat tahap terlewati, mudah buat anak untuk membaca kata utuh tanpa dipisah.
Dari sini, pelajaran membaca anak menjadi lebih mudah. Tinggal dilanjutkan mengajaknya membaca kalimat-kalimat sederhana dan beri dia pertanyaan seputar kalimat yang dibacanya, hanya untuk memantau apakah dia mengerti kalimat yang dibacanya atau hanya sekedar membacanya.
Tujuan dari tahapan 1- 4 hanya untuk menanamkan konsep membaca ϑî kepalanya. Kalau konsep membaca sudah tertanam ϑî benaknya, akan mudah baginya membaca kata juga kalimat.
Anak yang terbiasa membaca dengan mengeja, akan tetap mengeja ketika dia mulai membaca kata. Anak yang tidak diajari mengeja ketika sampai ϑî tahap membaca kata dengan 2 suku kata yang penulisannya dipisah sekalipun, akan terdengar membaca kata utuh. Dan tanpa mengeja, anak akan lebih cepat memahami maksud dari kalimat yang dibacanya.
Saturday, November 26, 2011
5 Cara Mengatasi Anak yang Terlanjur Manja
---------- ¤¤¤ --------
Pola asuh orangtua di rumah menentukan kemandirian anak. Anak usia 2-3 tahun sebenarnya sudah bisa dilatih mandiri. Namun tak sedikit balita yang terbiasa melakukan sesuatu dengan bantuan atau "intervensi" pengasuh dan orangtua. Anak selalu dilayani kebutuhannya. Kalau sudah begini, jangan heran jika anak sulit mandiri karena terlanjur serba dilayani.
Tapi tenang saja, Anda masih bisa mengubah pola yang sudah terbentuk itu. Berikut cara mengubahnya, seperti disarankan oleh Alzena Masykouri, MPsi, dari KANCIL, Jakarta.
1. Kompak
Ajak bicara anak dan orang-orang di lingkungan sekitar, yaitu kakek, nenek, dan pengasuhnya. Tujuannya agar terjadi persamaan perlakuan terhadap anak sehingga apa yang menjadi target tercapai.
Semua harus di bawah satu komando, yaitu orangtua, bagaimana metode yang akan ditempuh dalam memandirikan anak.
2. Bersabar
Selanjutnya, mulai terapkan program memandirikan anak. Hindari marah bila anak "lama" melakukan sesuatu. Ingat, segala sesuatu butuh proses.
3. Komunikasi
Sampaikan apa yang menjadi harapan orangtua. Katakan saja, misalnya "Kakak sudah besar. Jadi, mulai sekarang Kakak bisa mandi sendiri, ya."
Berikan arahan dengan nada datar dan pendek, juga tidak cepat karena rentang perhatian anak yang masih singkat. Seperti, "Ya, sekarang buka sepatunya, lalu kaus kakinya, ya. Simpan di rak sepatu." Bisa juga dengan kalimat, "Ayo siapa yang paling cepat memakai sepatu, Ayah atau Kakak?"
4. Konsisten
Bila anak bosan, merasa tidak mampu, merasa dipaksa, maka akan gagal program Anda untuk melatih anak mandiri. Katakan kepadanya, "Semua ini kebutuhan kamu. Kalau kamu tidak mau makan sendiri, nanti merasa lapar." Jadi, tetap berikan dukungan, bukan bantuan.
5. Apresiasi
Ketika anak berhasil mencapai suatu target kemandirian, berikan reward yang membuat anak merasa bangga dengan dirinya. Anak akan merasa percaya diri dan meyakini bahwa ia mampu melakukan sendiri.
Penting diingat, meminta anak melakukan sesuatu bukan berarti Anda tak sayang atau tak mau memerhatikan anak. Orang lain mungkin saja menilai Anda sebagai "Ratu atau Raja Tega", biarkan saja. Toh, Anda melakukannya tanpa kekerasan, ancaman, atau hukuman. Prinsipnya, Anda ingin mengubah paradigma selalu dibantu dan diladeni ini. Yang juga perlu diingat, persaingan di era masa depan sangat ketat. Kalau anak tak mandiri sejak dini, ia tak siap menghadapinya.
** Sumber : (Tabloid Nakita/Hilman Hilmansyah)
Wednesday, November 23, 2011
Mengatasi Sifat Penakut dan Pemalu Buah Hati

Oleh : Ida Silvia
Saya masih sangat ingat dengan diri saya ketika kecil. Saya sering takut dengan orang asing bahkan dengan anak kecil sebaya. Saya sering merasa tidak nyaman dengan lingkungan baru saya. Saya sering merasa tidak aman ketika harus beraktifitas sendiri tanpa didampingi ibu saya.
Waktu itu saya merasa orang-orang disekeliling saya hanya menganggap itu sebagai hal yang tidak perlu mendapat perhatian khusus. Saya tidak ingat ada yang berusaha membesarkan hati saya kala itu. Saya tidak ingat ada yang memberikan masukan positif sebagai penangkal menciutnya hati. Seolah mereka percaya bahwa hal itu akan hilang dengan sendirinya dengan bertambahnya usia.
Namun sebuah kesalahan membiarkan anak tetap berada ϑî dunia yang salah. Butuh kerja sangat keras untuk menghilangkan kebiasan pesimis dan kecil hati yang sudah tertanam pada pola pikir sejak kecil.
Berkaca dari pengalaman itu, saya tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Saya ingin buah hati menjadi pribadi yang berani dan optimis dalam melangkah untuk masa depannya. Saya ingin membantunya sejak dini.
Kekhawatiran saya bahkan sejak saya belum punya momongan adalah khawatir anak saya mungkin akan mewarisi watak kecil saya. Sejak awal saya sangat concern dengan hal itu. Saya memantau perkembangannya bahkan sejak usianya belum genap 1th.
Ketika kita melihat ada perbedaan antara anak kita dengan anak-anak kecil pada umumnya, mungkin anak kita takut ketika didekati anak lain, anak kita menjadi anak yang susah bergaul, tidak berani memulai berkenalan, tidak berani mendatangi temannya untuk memulai bermain, tidak nyaman ketika jauh dari ayah bundanya atau bahkan ingin selalu didampingi sang bunda..berarti anak kita tergolong anak yang pemalu dan atau penakut.
Anak pemalu cenderung memilih mengambil langkah aman, dia cenderung "mundur" ke posisi yang menurutnya aman ketika berhadapan dengan orang, tempat atau sesuatu yang baru. Anak penakut bersikap hati-hati terhadap hal baru dan cenderung merasa takut jika jauh dari ayah atau bundanya.
Menurut saya, anak harus dibiasakan bersosialisasi sejak dini. Sejak sebelum dia bersekolah. Ketika anak sudah mulai bisa berinteraksi dua arah dan mulai bisa diberi ataupun sekedar mengerti masukan positif, saat itu mudah buat kita untuk membimbing dan mengarahkannya.
Sebagai orang tua kita berperan sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Sediakan waktu anda untuk membimbing mereka. Anak-anak suka meniru apa yang dilihatnya. Biarkan anak anda melihat langsung seperti apa bersosialisasi. Dan anda harus menyiapkan diri anda untuk menjadi supporter, juga ikut aktif dalam proses pembentukan rasa percaya diri anak anda. Untuk itu butuh proses dan kesabaran dari orang tua dan lingkungan sekitarnya.
Ini adalah langkah-langkah yang saya lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri anak saya :
1. Kenalkan anak anda dengan lingkungan ϑî sekitar rumah anda.
Mulailah mengajak buah hati meluangkan waktu bersama dengan anak-anak ϑî sekitar kompleks perumahan. Awalnya ajak anda anda sekedar melihat keceriaan ϑî lingkungannya. Melihat teman-temannya bermain bersama akan meningkatkan keinginannya untuk ikut bermain. Namun jangan dipaksa, kerana tidak semua anak bisa langsung ikut terlibat dalam permainan. Ada anak yang cukup pemalu hingga tidak akan berani mendekat.
2. Ajarkan anak anda untuk terlibat dengan lingkungannya.
Di sini anda bisa mulai menempatkan diri anda sebagai "alat peraga" bagi buah hati anda. Anda bisa (mengajarkan)berkenalan dengan salah satu dari anak-anak yang sedang asyik bermain ϑî taman. Lalu libatkan anak anda dalam percakap tersebut. Ajak anak untuk berkenal dengan "teman baru anda". Buat pembicaraan yang bisa membuat mereka saling berbicara dan berinteraksi satu sama lain.
3. Beri anak anda kepercayaan ketika dia berada ϑî lingkungan baru.
Jangan terlalu protektif pada anak anda. Beri mereka kepercayaan. Misalnya ketika anda mengajaknya ke arena bermain anak, anda melihat anak anda terlihat ketakutan atau tidak nyaman dengan lingkungannya, anda bisa memulai untuk ikut bermain dan berinteraksi dengan mereka. Buat mereka saling berinteraksi hingga anak anda terlihat enjoy dengan teman barunya. Nah saat itu adalah saat yang tepat bagi anda untuk mulai menjauh, membiarkan anak anda belajar mengenal temannya dan lingkungannya tanpa campur tangan anda. Namun anda harus tetap memantau mereka dari jauh sekedar untuk memastikan kalau anak anda yang mungkin belum terbiasa bersosialisasi tetap nyaman dan baik-baik saja.
4. Ketika anak anda merasa takut atau malu, jangan memaksanya atau menghardiknya.
Jangan paksa anak anda untuk menjadi pemberani dan percaya diri. Anak kecil akan cenderung menolak ketika kita memaksanya. Apalagi kalau kita menghardiknya, hal itu akan membuatnya semakin menciut dan semakin menghancurkan percaya dirinya. Ketika anda memaksanya atau menghardiknya, Anak anda tidak akan melihatnya sebagai sebuah dukungan/dorongan bukan juga masukan positif. Yang masuk dikepalanya hanya anda memarahinya dan membuatnya semakin tidak nyaman.
5. Pahami perasaannya dan beri anak anda dukungan.
Jangan menyalahkannya ketika perasaan malu atau takut itu timbul. Pahami perasaannya, tunjukkan padanya bahwa perasaan itu wajar dan juga dimiliki teman-teman lainnya. Hal itu bertujuan untuk tidak membuatnya semakin terkucil. Beri dia dorongan agar dia menjadi lebih berani dan percaya diri. Ajak dia untuk mengenal lingkungannya dan beri dia penghargaan ketika dia bahkan sudah berani memulai tersenyum kepada teman barunya.
6. Biarkan anak anda ikut ϑî acara dan kegiatan yang mengasah percaya diri juga keberaniannya.
Jangan membatasi aktifitasnya karena anda khawatir anak anda akan merasa tidak nyaman ϑî acara yang terdapat banyak orang, ataupun khawatir dia menangis ϑî kegiatan yang membutuhkan keberanian.
Biarkan anak anda hadir ϑî acara yang banyak dihadiri orang seperti ϑî acara pesta ulang tahun temannya. Anda bisa datang lebih awal agar anak anda bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisinya sebelum pesta itu dipenuhi banyak orang, biarkan dia merasa nyaman dengan tempat itu terlebih dahulu.
Juga asah keberaniannya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan ϑî luar sekolah ataupun kegiatan sekolah yang menuntutnya beraktifitas dan jauh dari anda. Aktifitas ϑî luar sekolah, misalnya dia bisa anda ikutkan kelompok menggambar, menari, atau ikut mengaji bersama ϑî masjid dekat rumah. Dî sekolah, anda bisa mendorongnya ikut pentas seni, lomba-lomba juga kegiatan sekolah yang dilakukan dengan sekolah-sekolah lainnya.
Biarkan anak anda terbiasa beradaptasi dengan lingkungan dan situasi baru dan terbiasa mengatasi rasa tidak nyaman dan ketakutannya. Mula-mula anda harus banyak membimbingnya tapi lama kelamaan dia akan terbiasa dan tidak akan canggung lagi dengan dirinya dan pembawaannya dalam lingkungan sosial dan akan lebih baik kelak.
Menurut para ahli, watak anak bisa dipengaruhi karena faktor gen atau keturunan namun hanya 10%. Peran anda sangat besar dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak anda. Jadi mulailah untuk fokus memberikan perhatian, bimbingan juga dorongan kepadanya agar kelak anak-anak kita menjadi anak yang lebih siap menyongsong masa depannya.
Saturday, October 1, 2011
Setiap Anak Terlahir Istimewa

Lihat buah hati anda, apa yang istimewa ϑî dirinya?
Secara fisik hampir semua anak sama(mempunyai wajah, badan, lengan dan bertopang dg kakinya), mungkin ada yang merasa anaknya lebih cantik, lebih putih, lebih tinggi, lebih bersih..tapi apakah itu yang dimaksud istimewa?
Ketika seorang anak jalanan yang kesehariannya hanya berjibaku dengan debu dan teriknya matahari, apakah dia bisa terlihat cantik atau tampan?apakah dia bisa terlihat bersih dan putih? Lalu apakah dia tidak istimewa?
Secara kecerdasan, anda bisa mengukur kecerdasan anak anda mungkin ϑî atas rata-rata, cerdas atau bahkan genius..lalu itukah yang disebut istimewa?
Ketika seorang anak dengan kebutuhan khusus yang kesehariannya msh membutuhkan bantuan orang2 terdekatnya untuk beraktifitas, lantas apakah mereka tidak bisa dsebut istimewa?
Ketika kepribadian dan tingkah laku dijadikan alat ukur keistimewaan..
Apakah seorang anak yang meringkuk dipenjara karena telah menganiaya seorang teman sekolahnya juga tidak bisa disebut istimewa?
Setiap anak pada dasarnya terlahir sama. Ketika mereka muncul ϑî muka bumi ini, mereka semua mungil dan merah. Mereka semua hanya bisa menangis, mereka belum bisa membaca apalagi membuat gedung pencakar langit. Meraka juga belum mengerti apa itu sopan santun.
Lihatlah seorang anak jalanan ketika dia harus mencari nafkah untuk mencukupi makanan keluarganya hari itu, tanpa peduli akan sehitam dan sekotor apa dia..dia mengajari kita tentang kerja keras dan pengorbanan.
Anak berkebutuhan khusus adalah manusia berhati "malaikat", mereka tidak pernah berprasangka, berpikiran kotor, berniat jahat. Mereka adalah manusia yang diciptakan khusus dengan segala keterbatasannya namun bisa memberi pelajaran berharga bagi orang2 dsekelilingnya..mereka tidak menyerah dengan keadaan, mereka tetap hidup dengan dunianya. Mereka memberikan kenaikan derajat untuk orang2 disekelilingnya yang tidak henti2nya berjuang bersama mereka dengan tingkat kesabaran dan keikhlasan yang sangat tinggi..subhanallah..
Dan ketika seorang anak yang harus menangis dibalik jeruji besi karena tindakannya..siapa yang bisa disalahkan atas kejadian itu? Anak itukah sepenuhnya? Atau lingkungannya? Atau orang tuanya yang kurang maksimal menginput kepalanya dengan masukan-masukan positif? Sudah benarkah pendidikan agamanya? Sudah baguskah pendidikan karakternya? Sudahkah ayah ibunya menjadi "sahabat"nya ketika dia butuh tempat berbagi? Apakah mereka selalu ikut "terbangun" ϑî setiap "mimpi buruk" anaknya? Ketika lingkungan negatif begitu kerasnya menghantam, namun dengan pondasi yang kuat dari dalam akan membuatnya kokoh dan tetap tegar melewati semua hantaman.Mereka adalah anak2 istimewa yang harus "berjuang sendiri" untuk menjadi istimewa..mereka memberikan pelajar sangat penting buat para orang tua agar selalu menjaga amanat(yang sangat berharga)Nya.
Ketika ada orang yang mengatakan anak kita jelek, bodoh atau nakal..betapa marahnya kita. Betapa sedihnya kita. Mungkin saat itu adalah saat yang tepat buat kita untuk mulai intropeksi diri. Kenapa anak kita terlihat jelek (baca : lusuh, tidak terawat)? Kenapa anak kita bodoh(baca : kurang mengerti)? Dan kenapa anak kita nakal( baca : kurang sopan)? Apakah sepenuhnya itu kesalahan mereka? Atau kita ikut andil dalam pembentukannya? Atau kurang ber-andil dalam pencegahannya? Berapa kali kita "berjuang" untuk mengatasinya? Apakah kita tetap terus berjuang sekalipun bertubi-tubi bertemu dengan kegagalan? Mereka adalah makhluk-makhluk yang layak kita perjuangkan tanpa henti. Sebagai orang tua tentu kita bisa belajar dari tiap kegagalan yang tercipta dan mencari langkah terbaik untuk kebaikannya.
Dan ingatkah anda, ketika anda marah mengatakan anak anda "bodoh", menghinanya dengan panggilan sayang "gendut" dan memakinya dengan kata "nakal"..begitu mudah kata-kata itu keluar dari mulut kita tanpa memikirkan dampak negatif pada diri anak kita.
Ya..semua anak terlahir istimewa, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dengan segala bakat dan keterampilannya, dengan segala ketertarikannya pada kehidupan. Sekalipun mereka berbeda warna kulit, ras, suku bangsa dan bahasa, mereka tetap istimewa. Dari mereka kita banyak belajar dan untuk mereka kita juga belajar. Belajar untuk bersabar, belajar untuk memberikan pemahaman positif, belajar untuk menjadi pembimbing dan menjadi contoh buat mereka, belajar untuk mengenalkan mereka dengan lingkungan yang positif, belajar untuk meng-indah-kan hubungan mereka dengan Tuhan, dan belajar tentang sekian byk ilmu baru untuk kebaikan jiwa dan raga mereka. Kita sebagai orang tua ikut andil dalam pembentukan masa depannya. Menjadikan kekurangannya untuk kebaikannya dan menjadikan kelebihannya sebagai pencerah masa depannya..insyaAllah..
**artikel ini ditulis berdasarkan opini penulis. Kalaupun ada perbedaan pendapat, itu adalah fitrah. Karena tiap manusia dilahirkan berbeda-beda. Tujuan utama artikel ini adalah untuk memberi semangat kepada para orang tua untuk tetap berjuang demi kebaikan anak2nya dan membuatnya "terlihat" selalu istimewa..
#baca artikel terkait : Membangun Karakter Sejak Dini, http://idasilvy.blogspot.com/2011/10/membangun-karakter-sejak-dini.html
Membangun Karakter Sejak Dini
Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age).
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.
Nah, oleh karena itu, kita sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Kita sebagai orang tua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya, dengan memukul, memberikan pressure yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri atau minder, penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Ketika dewasa karakter semacam itu akan menjadi penghambat baginya dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Misalnya, tidak bisa menjadi seorang public speaker gara-gara ia minder atau malu. Tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau mengambil resiko dan takut gagal. Padahal, jika dia bersikap positif maka resiko bisa diubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan. Anda setuju kan?
Banyak yang mengatakan keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa jenius otak kita. Semakin kita jenius maka semakin sukses. Semakin kita meraih predikat juara kelas berturut-turut, maka semakin sukseslah kita. Benarkah demikian? Eit tunggu dulu!
Saya sendiri kurang setuju dengan anggapan tersebut. Fakta membuktikan, banyak orang sukses justru tidak mendapatkan prestasi gemilang di sekolahnya, mereka tidak mendapatkan juara kelas atau menduduki posisi teratas di sekolahnya. Mengapa demikian? Karena sebenarnya kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan otak kita saja. Namun kesuksesan ternyata lebih dominan ditentukan oleh kecakapan membangung hubungan emosional kita dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Selain itu, yang tidak boleh ditinggalkan adalah hubungan spiritual kita dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Tahukah anda bahwa kecakapan membangun hubungan dengan tiga pilar (diri sendiri, sosial, dan Tuhan) tersebut merupakan karakter-karakter yang dimiliki orang-orang sukses. Dan, saya beritahukan pada anda bahwa karakter tidak sepenuhnya bawaan sejak lahir. Karakter semacam itu bisa dibentuk. Wow, Benarkah? Saya katakan Benar! Dan pada saat anak berusia dini-lah terbentuk karakter-karakter itu. Seperti yang kita bahas tadi, bahwa usia dini adalah masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual anak mulai terbentuk. Pada usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk dari hasil belajar dan menyerap dari perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan sekitarnya. Pada usia ini perkembang mental berlangsung sangat cepat. Pada usia itu pula anak menjadi sangat sensitif dan peka mempelajari dan berlatih sesuatu yang dilihatnya, dirasakannya dan didengarkannya dari lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan yang positif akan membentuk karakter yang positif dan sukses.
Lalu, bagaimana cara membangun karakter anak sejak usia dini?
Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak.
Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya.
Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya.
Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.
Nah, sekarang kita memahami mengapa membangun pendidikan karakter anak sejak usia dini itu penting. Usia dini adalah usia emas, maka manfaatkan usia emas itu sebaik-baiknya
** artikel ini ditulis oleh : Timothy Wibowo
Dengan judul asli artikel : Membangun Karakter Sejak Pendidikan Anak Usia Dini
Diambil dari situs www.pendidikankarakter.com
Tuesday, September 27, 2011
Teknik Awal Belajar Membaca yang Efektif Untuk Anak Saya
oleh : Ida Silvia
Saya bukan seorang psikolog, bukan jg pengajar ϑî dunia pendidikan anak. Saya seorang ibu dengan 2 anak, kayla(4y2m) dan lucia(8,5m).
Langkah awal adalah kita kenalkan anak kita dengan nyanyian alphabet(A,B,C) bisa dua versi indonesia dan english..lakukan itu ϑî usia sangat dini ketika anak dah mulai tersenyum mendengar nyanyian..hingga anak familiar dengannya..
Langkah selanjutnya bisa mulai mengenalkannya secara visual apa yang biasa dia nyanyikan. Kayla dari umur 1,5th sudah menyukai puzzle..mulai puzzle bentuk sederhana, bentuk lbh rumit, jg bentuk alphabet..dari situ dia mulai mengenal alphabet secara visual, blm mencoba untuk menghafalnya..
Seiring dengan berjalannya waktu dia mulai tertarik untuk belajar membaca alphabet..dari sebuah ketidaksengajaan, sebuah teknik awal membaca yang cukup menyenangkan menjadi patut dishare dengan para orang tua yang sedang dalam masa kebingungan membimbing buah hatinya untuk mengenal alphabet atau juga kita kenal sebagai huruf latin.
Awalnya saya menerapkan cara lama yang kebanyakan orang tua terapkan yaitu dengan menunjuk huruf dan mengatakan pada anak itu huruf apa, misalnya kita tunjuk B dan kita katakan ke anak kalau itu huruf B..cara seperti itu benar2 tidak efektif untuk anak saya. Anak akan merasa bosan dan susah menginggatnya. Lakukan dengan permainan!!itu yang anak2 butuhkan!!
Biarkan tembok anda menjadi korban, tempel poster2 yang sekiranya mendukung anak untuk belajar termasuk poster alphabet. Tempel poster itu setinggi posisi mereka duduk, karena anak ketika bermain cenderung duduk. Nah, ketika dia asyik bermain bolehlah sekali2 anda ikut nimbrung..usahakan bermainnya didekat poster itu tertempel. Saat itulah saat yang paling tepat untuk mengajak anak anda untuk bermain sambil sedikit belajar..ketika dia memegang mobil2an misalnya, anda bisa tunjuk huruf M dan mengatakan padanya "ini M untuk mobil". Hal itu bisa diterapkan ke semua huruf. Bisa juga memakai benda2 atau hewan yang familiar dengannya. Cara itu terbukti sangat ampuh untuk anak saya, padahal cara itu muncul karena waktu itu saya tidak punya banyak waktu untuk konsen belajar dengannya..jadi saya mengefektifkan waktu saya dengan menyebut benda2 fimiliar sekelilingnya ketika dia menunjuk huruf yang ada ϑî poster dan bertanya "ini huruf apa,mi?", saya katakan itu C untuk cicak, Z untuk zebra, dll. Dan tanpa saya sangka ternyata hal itu terpatri ϑî kepalanya dengan mudahnya. Ketika besoknya saya tergelitik untuk bertanya, saya mendapat jawaban yang demikian lancarnya keluar dari mulutnya. Dia menunjuk huruf-huruf itu dengan mengatakan "ini C untuk cicak, ini Z untuk zebra" dan seterusnya..
Dan ternyata bukan belajar yang duduk ϑî depan meja ato ϑî depan papan tulis sambil memelototi buku dan terpaku ϑî depan kita yang bisa membuat dia lebih cepat belajar. Tapi belajar yang dilakukan dengan bermainlah yang lebih efektif untuk bisa dicerna dengan baik oleh kepalanya..terbukti dengan cara belajar seperti itu dia bisa menghafal hampir semua huruf alphabet dalam waktu sbulan..amazing!!
Berbeda dengan belajar membaca/mengingat alphabet, membaca/mengingat angka tenyata kudu dilakukan dengan teknik berbeda. Ketika saya menjejer 2 benda dan menunjuk angka 2 untuk mengingatkannya, ternyata..it's not worked. Saya sempat mengalami kebingungan teknik menghafal/membaca angka. Dia bisa menguasai hampir semua alphabet hanya dalam 1bulan, tapi menghafal/membaca angka sangat kesulitan. Waktu itu hanya bentuk angka 1 dan 0 yang diingatnya. Saya sampai kebingungan untuk mengajarinya dengan cara apa..hingga saya ingat dia mempunyai puzzle angka yg besar seukuran 1 kotak lantai keramik, saya tata semua puzzle ϑî atas keramik satu per satu. Awalnya saya tata berurutan agar dia lebih mudah mengingat(karena secara verbal dia bisa menyebutkan angka berurutan dari 1 sampai 10 tapi visual dia kesulitan untuk menghafalnya). Dia saya ajak bermain lompat angka..ketika saya sebut angka 0, dia saya arahkan ke angka 0. Ketika saya sebut angka 1, dia saya arahkan ke angka 1. Dari cara berurutan, mulai saya acak. Saya tata angka secara acak, menjadikan acara main lompat angka sangat menyenangkan. Saya biarkan dia untuk menentukan sendiri ke kotak puzzle mana dia melompat..saya sebut angka tidak berurutan dan dia melompat menuju angka yang saya sebut. Pada awalnya tidak mudah karena berkali-kali dia melompat ke kotak puzzle yang salah, tapi sudah tugas saya untuk menunjukkan mana angka yang benar dan saya tunjukkan itu ke dia supaya dia beralih ke kotak yang benar. Hingga akhirnya dia bisa bener-bener menghafal angka2 tersebut.
Permainan lompat angkapun tidak bisa dilakukan sehari dan anak langsung hafal. Butuh beberapa lama hingga dia benar-benar hafal dengan bentuk tiap angkanya. Dan permainan2 itu bukan bermaksud memaksa mereka, jadi bisa dihentikan sebelum atau ketika mereka dah kelihatan enggan.
Sekali lagi hasil menunjukkan, dengan cara belajar yang menyenangkan mereka akan lebih mudah mencerna apa yang kita sampaikan. Tidak harus dengan cara yang seperti kami praktekkan, yang penting menyenangkan bagi mereka. Buat kita, yang masuk ke kepala mereka adalah ilmu atau hasil dari belajar. Tapi buat mereka, itu adalah permainan.
Tiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menangkap masukan dari kita bahkan dengan teknik yang sama sekalipun..so be patient. Anak kita adalah amanat dari Nya. Sudah tugas kita untuk membimbingnya. Semoga bermanfaat.. ^_^
# tips-tips tentang teknik calistung yang lainnya akan saya posting ϑî artikel-artikel selanjutnya..kalau artikelnya kelewat panjang ҆ϊ malah kebosanan bacanya ;)
Monday, September 26, 2011
Ilmu Baru Buat Ayah Bunda : Hypnoparenting-eye level
Ayah&bunda, kita sedikit “bermain” ya. Sekarang, ajak suami/istri atau orang disekitar anda berbincang berhadapan. Bincang apa saja, bebas. Tapi ayah&bunda dalam posisi duduk atau jongkok, dan lawan bicara anda dalam posisi berdiri. Setelah beberapa saaat, apa yang ayah&bunda rasakan?
Sebagian besar orang yang melakukan simulasi dalam pelatihan hypnoparenting yang kami lakukan menjawab kalo itu “ga nyaman”, “tidak sopan”, “merasa tidak dihargai”, “pegal leher”, “merasa diintimadasi”, “merasa ditekan” dan hal-hal negatif lain. Hanya sedikit yang merasa “biasa saja”.
Jika dalam posisi sebaliknya, apa yang ayah&bunda rasakan? Sebagian besar Merasa dominan, berkuasa, kuat dan bahkan merasa ingin “menyerang”.
Ayah&Bunda sudah Rasakan, kita sendiri tidak nyaman ketika dalam posisi tersebut. Apalagi anak-anak kita yang tingginya hanya setengah dari tinggi kita. Apa rasanya jika setiap berbicara dengan orang dewasa ia dalam posisi tersebut? Apalagi jika ditambah mata melotot dan jari telunjuk yang diacungkan. Apa rasanya?
Dalam ilmu komunikasi, jika ingin komunikasi kita efektif dengan lawan bicara maka kita harus membangun keakraban dulu atau dalam ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming) dikenal dengan Istilah “building rapport”. Salah satu caranya dengan menyamakan “eye level”. Eye level ialah menyamakan ketinggian mata kita dengan mata lawan bicara. Ketika bicara dengan anak-anak, maka kita menyamakan “tinggi mata” kita dengan mereka. Caranya bisa ayah bunda atur sendiri. Ayah&bunda bisa menunduk, duduk, jongkok atau bisa juga menggendong mereka sehingga “eye level”-nya sama. Yang penting, “eye level”-nya sama. Sehingga pandangan mata kita saling bertemu. “rapport” pun akan semakin mudah dan komunikasi semakin efektif. Sederhana bukan? Dan rasakan apa rasanya jika seorang lawan bicara kita menyesuaikan dirinya untuk bisa bicara dengan kita? Saya yakin, Ayah&bunda sudah tahu jawabannya.
Tips-tips lainnya akan kita bahas dalam tulisan selanjutnya ya. Dan untuk menutup tulisan ini, izinkan saya bercerita tentang sebuah kisah. Pada Suatu ketika, Rasulullah dan para sahabat akan memasuki sebuah kota. Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menghalangi jalan Rasulullah. Beberapa sahabat berusaha untuk menyuruh anak itu minggir, tapi anak itu bergeming. Ia tetap menghalangi jalan Rasulullah. Apa yang Rasulullah lakukan? Rasulullah pun menundukkan badannya, hingga ketinggian matanya sama dengan si anak. Sambil menatap dengan teduh ke mata anak tersebut, dengan lemah lembut Rasulullah pun berkata “sayang, ada apa? bolehkah kami lewat dan masuk ke kotamu?”. Setelah anak itu menyampaikan keinginannya, maka anak itu pun minggir dan mempersilahkan Rasulullah dan para sahabat masuk ke dalam kota.
**diambil dari fb Idzma Mahayattika
Seorang Ayah-Family hypnotherapist-story teller



